God Bless Luncurkan “Cermin 7”

Personil God Bless seperti tak pernah menyerah pada zaman. Setelah vakum dari kegiatan rekaman selama tujuh tahun, bulan Desember grup rock tertua Indonesia ini telah siap merilis album terbaru.

Perkembangan menariknya: sembilan dari lagu dua belas lagu di dalamnya berisikan materi album “Cermin”, album kedua rilisan tahun 1980. Keputusan ini rupanya sudah cukup lama direncanakan. Usai pemotongan tumpeng pertanda dimulainya proses penggarapan pada beberapa bulan lalu, keempat personil God Bless mengemukakan alasannya. “Cermin” dipandang menyimpan sejumlah karya kuat yang tetap menantang kreativitas untuk digarap ulang. “Banyak lagu bagus yang pada waktu penggarapannya dulu masih menggunakan teknologi sederhana,” kata Ian Antono.

Achmad Albar, Donny Fattah dan Abadi Soesman pun sepakat untuk menghidupkan kembali lagu-lagu klasik seperti “Selamat Pagi Indonesia”, “Anak Adam”, “Cermin”, “Musisi” mau pun “Balada Sejuta Wajah”. Keempat musisi senior ini lantas membongkar artefak rock tersebut dan menyajikannya dalam kemasan yang lebih segar tanpa mengubah bagan masing-masing lagu, sehingga para penggemar musik rock yang sudah terlanjur jatuh cinta tidak perlu merasa kehilangan dengan masuknya beberapa unsur bebunyian baru.

Bergabungnya Fajar Satritama ke dalam formasi God Bless sungguh menyuntikan darah segar. Dengan teknik pukulan sangat bertenaga, salah seorang pendiri kelompok Edane ini sukses menjaga keseluruhan beat. Bahkan untuk lagu tertentu, sebut saja “Musisi”, harus diakui kontribusinya menjadikan lagu tersebut lebih agresif dari versi asli. Begitu juga dengan “Anak Adam”, lagu berirama progresif yang pada sekitar 30 tahun silam pernah menjadi “lagu wajib” festival musik rock di berbagai kota Indonesia. Jika harus dicari perbedaan lain, hal itu terletak pada tarikan vokal Achmad Albar yang, tentu saja, jauh lebih matang.

Meski demikian, God Bless tetap menghadirkan karya segar sebagai single, yaitu “Damai”. Dari judulnya segera sudah terbaca pesan apa yang ingin disampaikan kepada publik. Menyampaikan pesan moral melalui karya seni sebenarnya bukan hal baru bagi mereka. Mulai dari humanisme, cinta dalam pemahaman yang lebih universal hingga ketidakdilan sudah pernah berseliweran sejak album pertama. Hanya saja, lagu yang liriknya ditulis oleh Teguh Esha, penulis novel remaja terkenal Ali Topan Anak Jalanan, ini terasa sangat kontekstual dengan situasi dalam negeri belakangan ini. Oleh sebab itu pemilihan “Damai” sebagai single yang akan segera dirilis pada 17 Desember 2016 amat sangat tepat.

Dikemas dalam irama medium beat, arasemen yang ringan adalah bahasa musik yang mengajak siapa saja untuk memasuki ruang optimisme. Liriknya pun tidak memperlihatkan struktur yang rumit sehingga sangat mudah diingat dan dibawakan.

Terpilihanya angka “7” mengiringi judul album “Cermin” ini pun muncul dengan beberapa alasan. Album Cermin 7 ini adalah album rekaman ke-7 God Bless selama 43 tahun mereka berkarier di dunia musik, setelah album terakhir mereka 7 tahun silam, persis di usia sang vokalis, Achmad Albar, ke-70 tahun.

Album Cermin 7 direkam dengan semangat kesenimanan yang tetap menyala ketika penjualan fisik tak kunjung bangkit dari keterpurukan dan era digital belum sepenuhnya dapat menjadi rujukan sukses komersial. Personil God Bless seperti menafikan mimpi sebagian besar musisi itu. Bahkan edar fisiknya yang direncanakan dalam format dobel album menjadi semacam ‘perlawanan’ pada kenyataan tersebut.

“Kami tidak memusingkan hasil penjualannya. Yang penting tetap berkarya, dari dulu sampai sekarang God Bless adalah band panggung bukan rekaman” kata Achmad Albar yang diamini oleh Donny Fattah. “Kalau pertimbangannya hanya pada penjualan fisik mau pun sistem digital, kami tak akan pernah kunjung rekaman.”

Secara filosofis rampungnya pengerjaan album Cermin 7 menjadi inspirator yang tetap mengobarkan semangat kreatif bahwa dunia musik rock Indonesia tetap hidup dan memiliki tempat tersendiri.