DARI MUSISI UNTUK PERSATUAN INDONESIA

Konser Musik Untuk Republik yang berlangsung selama tiga hari di Buperta Cibubur (18, 19 & 20 Oktober 2019) telah selesai dengan sebuah kejutan dengan hadirnya Presiden Joko Widodo, bertepatan dengan penampilan God Bless di hari ke-3. Tidak kurang 70 band dan penyanyi turut berpartisipasi dalam menyeru perdamaian untuk negeri ini. 

Kabar rencana kedatangan RI 1 untuk menyaksikan acara diterima pada menit-menit terakhir menjelang God Bless naik panggung sekitar pukul 21.30 WIB. Bagi God Bless kejutan tersebut tentu merupakan sebuah penghormatan.

Sebagai pihak yang paling awal diminta kesediaan tampil, moment di atas tidak pernah muncul dalam pembahasan. God Bless hanya dikonfirmasi bahwa tujuan penyelenggaraan acara tersebut adalah untuk nenyuarakan kembali persatuan kepada seluruh lapisan masyarakat yang semakin terpolarisasi karena agenda politik belakangan ini. Bukan usaha yang mudah dan belum tentu bisa berhasil dengan cepat, tapi tentunya harus dimulai. 
Setelah memahami konsep penyelenggaraan dan mencocokan dengan jadwal pentas, God Bless segera memutuskan bergabung. 

Presiden Joko Widodo ikut hadir menyaksikan Konser Musik Untuk Republik di Buperta Cibubur, Minggu (20/10)

Pada prosesnya kemudian, Konser Musik Untuk Republik sempat mengundang pro – kontra yang pada dasarnya merupakan hal wajar pertanda masih hidupnya dinamika dalam berkesenian, dan God Bless mengambil sisi positifnya.  God Bless memilih berbuat karena musik adalah media ekspresi bagi musisi dalam menyampaikan pemikiran, lingkungan mau pun kritik sosial. Sebuah gagasan kreatif tidak harus serta-merta menampakkan hasil akhir. Di sana ada proses. 

Salah satu lagu legendaris Bob Dylan, “Blowin In The Wind” (1963) baru memperoleh Nobel Sastra 25 tahun kemudian. Dalam lagu itu Bob Dylan bicara  banyak hal. Tentang lingkungan, penderitaan manusia, perang dan berbagai aspek kehidupan lain lewat lirik penuh makna. 

“How many ears must one man heve, before he can hear people cry? How many deaths will it take till he knows that too many people have died (Berapa telinga yang harus dimiliki seseorang untuk mendengar tangisan orang lain? Berapa banyak kematian yang dialami hingga ia tersadar terlalu banyak orang yang mati?).

Lagu “Imagine” juga menunjukan kepada dunia betapa besar keinginan John Lennon melihat dunia penuh kedamaian. Setelah The Beatles bubar, John Lennon memang memusatkan kegiatannya untuk kampanye perdamaian. Bersama Yoko Ono, ia habis-habisan menentang perang. 

“I hope someday you’ll join us. And the world will live as one. (Aku berharap suatu hari kamu akan bergabung dengan kami. Dan dunia akan hidup bersatu).”

Melalui musik pula God Bless berusaha memotret fenomena kehidupan sejak album kedua hingga yang terakhir melalui single “Damai”. 

“Damai, damai, damailah saudaraku. Kebencian sudah tak berlaku”.

Hadir tidaknya Presiden Joko Widodo tidak akan mengurangi dedikasi pihak penyelenggara yang sudah bekerja keras menyiapkan acara selama dua bulan penuh. 

Salut kepada rekan-rekan musisi yang sudah ambil bagian dalam Konser Untuk Republik. Teruslah berkarya sambil tetap memperlihatkan kepedulian sebagai musisi yang berguna, agar tidak menjadi manusia seperti yang digambarkan filsuf Prancis Albert Camus, absurd dan tidak bermakna.

Salam Musik Indonesia!

Photo: @evanantono / God Bless Management